Jumat, 26 Desember 2014

Alhamdulillah ...

ﻗُﻞِ ٱﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﺳَﻠَٰﻢٌ ﻋَﻠَﻰٰ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ٱﺻْﻂَﻔَﻰٰٓ ۗ ءَآﻟﻠَّﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ ﺃَﻣَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ

Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?" (27:59)

Dialah Allah yang berhak mendapatkan pujian dan pengakuan dari hamba-hamba-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga dan atas petunjuk untuk mengenal-Nya, petunjuk kepada jalan-Nya yang di pilih-Nya untuk mereka yang telah mereka terima dan mereka rasakan di setiap ketika, setiap saat, dan setiap langkah.
Alhamdulillah sesungguhnya adalah kalimat Tauhid dan syukur yang menggenangi perasaan mukmin yang kalbunya bergetar setiap kali mengingat Allah. Sadar dan mengakui bahwa wujud dirinya tidak lebih dari sekelumit curahan nikmat Ilahi yang pantas di puji dan di sanjung,
Alhamdulillah adalah kalimat Tauhid yang agung yang sepantasnya setiap mukmin mengawali pertemuan mereka, pembicaraan, berdakwah, berdiskusi, dan berdebat, dan mengakhirinya juga dengan kalimat yang sama.
Dan juga shalawat dan salam kepada para Nabi dan Rasul-Nya yang telah bertugas dan berjuang mengemban Risalah-Nya dan menyampaikan dakwah-Nya untuk mengeluarkan manusia dari segala bentuk kesyirikkan dan kejahiliyahan

sumber tulisan Riko Syafei

Sabtu, 06 Desember 2014

Dimanakah Kuasa Manusia

 اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (39:42)

Mati itu seperti tidur! Maka, perhatikanlah manusia yang sedang tidur! Apakah yang dapat di kerjakannya? begitu rapuh tak berdaya, tak mampu menjaga dirinya sedikitpun, walau hanya untuk menghadapi seekor nyamuk atau semut kecil.
Kemanakah hilangnya daya kekuatan dan kemampuannya? Kemanakah kecerdasan dan kehebatanya? yang begitu di banggakan dan di andalkannya, yang telah membuatnya begitu percaya diri dan berlaku sombong kepada-Nya .
Dialah yang yang mematikan dan menidurkan. Kehendak-Nyalah yang menjadikan manusia bangun dan hidup dengan semua itu.
Ia sama sekali tak memiliki daya dan upaya untuk menahan Kehendak-Nya, jika Dia berkehendak mengambil semua itu, tak kuasa sedikit pun menahan kematiannya, jika waktu-Nya telah tiba. Sebagaimana ia tak kuasa walau hanya untuk sekedar menahan kantuknya agar tidak terlelap!

Hati Yang Beriman

Hati yang beriman mengetahui betapa berharganya petunjuk sesudah kesesatan, betapa berharganya pengetahuan sesudah kegelapan, betapa berharganya mampu bersikap istiqomah di atas jalan kebenaran sesudah kebingungan, betapa berharganya kemantapan terhadap kebenaran sesudah goncang dan goyang, betapa berharganya terbebas dari menyembah sesama hamba kepada menyembah Allah saja, dan betapa berharganya perhatian yang tinggi dalam urusan yang besar sesudah bermain-main dengan perhatian yang kecil dalam urusan yang rendah. Dia mengerti Allah telah memberi semua bekal itu dengan keimanan

Karena itu, dia merasa sayang kalau harus kembali kepada kesesatan, sebagaimana orang yang telah merasakan segarnya naungan merasa sayang kalau kembali ketempat yang panas terik menyengat. Dia menyadari bahwa di dalam kecerahan iman terdapat sesuatu yang manis dan tak dapat di capai kecuali oleh orang yang pernah merasakan keringnya kekufuran dan kesengsaraan yang pahit. Dan, didalam ketenangan iman terdapat sesuatu yang manis yang tidak di dapati kecuali oleh orang yang pernah merasakan kesengsaran kesesatan. Oleh karena itulah, orang-orang yang beriman menghadap kepada Rabb mereka dengan doa yang khusuk ini:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ 
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya." Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.( Ali Imran:8-9)

Iman Yang Dusta


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ    كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ 
       إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (As-Shaff:2-4)

Sesungguhnya risalah Islam itu adalah amanah dari Allah. Amanah yang di pikul oleh Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. Sehingga, dengan menjadi seorang muslim berarti seseorang sebenarnya tengah membawa misi dari Allah. Yakni,untuk membebaskan seluruh manusia dari penyembahan kepada sesama hamba hingga seluruh manusia hanya menyembah kepada Allah saja. Dan mengembalikan seluruh kekuasaan dan kedaulatan itu hanya kepada-Nya
Sungguh, Dia benci dengan seorang yang mengaku muslim dan beriman bahwa Muhammad itu Rasulullah tetapi ia lebih suka sendirian. Ia beriman sendirian, beramal sendirian,dan tidak mau masuk dalam barisan. Ia engan memikul beban tugas itu, Maka, sesungguhnya ia telah berdusta atas apa yang ia katakan.