Minggu, 28 Desember 2014

Ke Munafiq an.... andakah ?

 اَلۡمُنٰفِقُوۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتُ بَعۡضُهُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ‌ۘ يَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمُنۡكَرِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمَعۡرُوۡفِ وَيَقۡبِضُوۡنَ اَيۡدِيَهُمۡ‌ؕ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمۡ‌ؕ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
وَعَدَ اللّٰهُ الۡمُنٰفِقِيۡنَ وَالۡمُنٰفِقٰتِ وَالۡـكُفَّارَ نَارَ جَهَـنَّمَ خٰلِدِيۡنَ فِيۡهَا‌ ؕ هِىَ حَسۡبُهُمۡ‌ ۚ وَلَـعَنَهُمُ اللّٰهُ‌ ۚ وَلَهُمۡ عَذَابٌ مُّقِيۡمٌ ۙ‏

Laki-laki yang munafik dan perempuan-perempuanyang munafik,yang sebagian mereka adalah dari yang sebahagian ,(yaitu) mereka, menyuruh dengan yang munkar dan mereka melarang dari yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. mereka Telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.  At-Taubah : 67
Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.  At-Taubah : 68


Surah At-Taubah merupakan salah satu surah yang banyak membongkar rahasia kaum munafik, sehingga membuat munafikun menjadi kelabakan dan semakin tersudut. Setiap kebohongan yang dilakukannya, senantiasa diungkapkan oleh suara wahyu, suara kebenaran  yang datang dari menara kesucian menjelaskan tingkah laku manusia munafik, berisikan kecaman terhadap mereka yang memiliki ciri-ciri kemunafikan didalam dirinya, disanalah juga terdapat perintah kepada orang-orang beriman untuk berjihad menghadapi kemunafikan.



Tak dapat disangkal bahwa kelakuan kaum munafik, sungguh menyakiti nabi dan menusuk perasaan kaum mukminun , sebab mereka mendengar peringatan-peringatan yang disampaikan nabi, tetapi cuma hanya sekedar mendengarkn saja . Kalaupun mereka mau berubah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, menjadikan orang beriman sebagai saudaranya, perkataan itu hanya sebagai siasat belaka, pandai bertanam tebu dibibir, kata-kata sumpah yang tersembur dari mulutnya hanya sekedar menarik simpati orang. Seakan-akan mereka tidak mau tahu dengan ancaman azab yang disediakan bagi orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.

Padahal mereka sebetulnya menyadari bahwa dia berada dipihak yang salah, sehingga dalam keseharian mereka dihantui oleh perasan takut, kalau-kalau turun wahyu yang menyalahkan perbuatannya, menceritakan kepada orang banyak niat-niat jahat yang terselubung dalam kalbunya. Kecemasan dan ketakutan orang-orang munafik selalu menjadi kenyataan, begitu mereka mempermain-mainkan ayat-ayat Allah, maka Allah pun kembali menceritakan apa yang baru saja mereka kerjakan,  manusia bisa saja mereka tipu, tetapi Allah sedikitpun tidak bisa dipermainkan. Namun kalau mereka mau kembali meningakan perbuatan dosa itu, maka pintu tobatpun tetap terbuka, sementara golongan yang keras kepala akan mendapat azab dan siksan yang pedih.

Melalui wahyu diatas-Surah At-Taubah-digambarkan beberapa tingkah laku kaum munafik, yang sangat paradoks dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah menjelaskan :

“ Laki-laki yang munafik dan perempuan yang munafik, sebahagian mereka adalah dari yang sebahagian”

Tidak ada perbedaan perbedaan, asalkan mereka berpredikat munafik , apakah laki-laki atau perempuan, tingkah lakunya sama saja, pandanganya terhadap kemungkaran dan kebaikan tidak berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mata hatinya sudah rusak, mereka  melihat yang mungkar itu sudah ma’ruf, yang ma’ruf sudah mungkar.

Kekeliruanya ini semakin dibuktikan dengan melarang untuk berbuat ma’ruf, menghalang-halangi orang untuk mengerjakan kebaikan, seperti menghalangi orang untuk pergi shalat, malarang wanita muslimah menutup aurat, menghalangi tegaknya syariat Allah, dan perbuatan ma’ruf lainnya. Sebaliknya mereka menyuruh dan mengajak orang untuk berbuat mungkar seperti : menyediakan fasilitas/arena perjudian, menjual minum-minuman yang memabukkan, membangun tempat-tempat maksiat dan sebagainya.

Tindakkan dan perlakuan ini jelas  berbenturan dengan apa yang diperintahkan Allah, bahkan sangat berlawanan, sebab Allah memerintahkan :

  “Hendaklah mulai dari kamu membentuk umat yang menyeru kepada khair, memerintah dengan ma'ruf dan mencegah dari yang munkar itulah orang-orang yang beruntung.” ( Ali-Imran : 104 )

Ciri kemunafikkan selanjutnya adalah mereka  mengengamkan tangan mereka, yaitu tidak mau mengulurkan tangannya, memberikan bantuan untuk berjihad fisabilillah, mereka dihingapi oleh sifat bakhil, tamak dengan harta benda. Tidak ada keyakinan dalam dirinya bahwa apa yang mereka berikan dijalan Allah itu nanti akan diterima balasanya dari Allah , dengan balasan yang setimpal.

Selanjutkan dijelaskan, bahwa kaum munafik telah melupakan Allah, mungkin nama Allah tetap disebutnya, tetapi sebutan itu tak lebih dari komat-kamit di lidah sebagai pemanis kata, hatinya terbang entah kemana, jauh berzikir kepada Allah. Karena perlakuan yang melampui batas ini, maka Allah pun  melupakan mereka. Itu bukan berarti Allah mempunyai sifat pelupa, tetapi yang dimaksud  adalah Allah tidak lagi memperdulikan mereka dan membiarkan mereka terperosok dan terombang-ambing  kelembah kesesatan.

Dalam ayat lain yang hampir senada dengan ayat diatas, dijelaskan bahwa Allah melarang hambahnya untuk melupakannya :

 “Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” ( Al-Hasyr : 19 )

Cukup tegas larangan yang diberikan Allah agar manusia jangan sampai melupakan Allah dan ajaran-Nya, bagi mereka yang melanggar diberikan ganjaran bahwa Allah juga akan melupakan mereka. Dengan perkataan lain, manusia itu akan lupa diri. Dia lupa bahwa dia seorang manusia yang mempunyai martabat yang tinggi dan makhluk mulia disisi Rabb-Nya, dan mempunyai tugas untuk manghambahkan diri kepada-Nya. Tetapi gara-gara tindak tanduknya sendiri, akibatnya dia juga dimasukkan pada golongan manusia fasik.

Akhirnya bagi  kaum munafik, laki-laki dan permpuan serta kaum kufar berlaku janji Allah, dimana mereka akan di tempatkan di dalam nereka jahanam, jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali, mereka akan mendapat kutukkan dan azab dari yang Maha Perkasa yaitu Allah SWT. Dengan demikian tamatlah riwayat kaum munafik, fasik dan orang-orang kafir, mereka akan mendekam dalam penjara Allah buat selama-lamanya, hilanglah segala bentuk kesombongan, timbul penyesakan yang tak terkirakan hebatnya, apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, penyesalan itu sudah terlambat. Nauzubillah min dzaalik.       Berbeda halnya dengan ujung penghidupan manusia beriman , dimana orang-orang beriman itu laki-laki dan perempuan sebahagian mereka adalah wali bagi sebahagian yang lain, mereka bersaudara, pimpin memimpin, mereka menyuruh berbuat dengan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar., dan mereka sama-sama mengerjakan shalat, mengeluarka zakat, mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, senantiasa memperoleh rakmat dari Allah. Kepada mereka itu dijanjikan kesenangan dan kebahagiaan :

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” ( At-Taubah : 72 )

Kalau orang-orang munafik mempunyai ciri-ciri menyuruh dengan yang mungkar dan melarang dari yang ma’ruf, maka orang-orang mukmin jusru diperintahkan untuk memerinta dengan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar .kaum munafik terputus hubungannya dengan Allah, sementara orang-orang beriman tetap berada dalam ketaatan. Tempat merekapun diakhirat sangat jauh berbeda, kaum munafik akan dilemparkan kedalam nereka jahanam, sedangkan orang-orang mukmin akan dimasukkan kedalam surga yang penuh kenikmatannya.

Pelajaran lain yang dapat kita ambil, diamana persatuan orang-orang munafik sangat gersang, tidak dilandasi oleh motifasi yang jelas, kosong dari nilai-nilai iman dan rasa kasih sayang, mereka tidak mau membantu sesama mereka ( mengengam tangannya ), lain halnya dengan orang-orang beriman, mereka bentu membantu sesamanya, mereka aktif dalam membayar zakat yang diperuntukkan untuk saudaranya dan berhak menerimanya.

Dengan menyelami firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 67-68 diatas, kiranya dapat membina ukhuwah Islamiyah , serta senantiasa meningkatkan kewaspadaan kita terhadap orang-orang munafik...

 Disamping itu kita mesti ingat, bahwa pengarahan-pengarahan Allah seperti itu bukan di tujukan kepada orang-orang munafik itu, tetapi ditujukan kepada kita. Al-Quran adalah untuk kita. Al-Quran berbicara pada diri, membisikkan, mengambarkan perilaku segelintir manusia. Oleh sebab itu kewaspadaan kita dalam hal ini mesti benar-benar ditingkatkan. Kita tidak menudingkan orang lain, tetapi kita menuding diri ini, sebab apa yang ada pada orang laini pada hakekatnya juga ada pada diri kita. kita hadapkan Al-Quran untuk kita bukan untuk orang lain. Mungkin saja diri kita yang sudah menjadi munafik tanpa kita sadari. Nah... kita tidak dapat menentukan siapa yang munafik itu, tetapi urusan itu ada ditangan Allah, d imana Dia hanya menyebutkan ciri-cirinya. Sekarang tinggal lagi bagi kita untuk mengoreksi diri masing-masing.

                Sudahkah kita merasakan Al-Quran itu bicara pada kita...?

Sumber Tulisan Riko Syfei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar